-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Semua Tulisan yang kurang bagus ini hanyalah sebuah proses belajar untuk memahami realita diriku dan dunia luar. Selamat menyelam dalamnya lautan ideku dari sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang yang bisa saja objektif dan bisa pula subjektif. Kebenaran hanyalah Milik Allah Subhana Wa Ta'ala semata. Semoga tulisan-tulisan dalam blog ini Bermanfaat bagi kita semua. aamiin
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

#Meracau

22 Februari, 2013


Ceracau Senja.

Senja ini, gerimis baru saja reda, langit kembali cerah. Engkau perempuan, nona bermata bening, pelukis jingga senja yang memantul dari bening mataku. Aku lelaki. Lihatlah, jingga itu memantul bersama sisa-sisa air mata. Itu bukanlah gerimis yang turun sedari tadi, itu hanyalah derai rindu yang bercampur gerimis, nona! 
Senja ini, Akhir februari, musim penghujan, dan gerimis baru saja reda. Ada daun-daun yang sedang menghijau, tapi ada juga sebagian dedaunan yang berguguran di musim hujan ini. Aku mencoba memungutnya satu-satu. Wahai nona bermata bening, lukislah aku yang sedang memungut rindu-rindu yang berguguran detik demi detik ini. 
Di ufuk langit, ada lintasan jingga seperti fatamorgana membentuk naga yang menyemburkan api, membakar senja, menghanguskan lembaran-lembaran waktu. Aku lelaki, terbakar bersama rindu yang menderai.
Senja ini, aku masih disini, memetik dawai biola dengan pelan. Engkau perempuan, tenggelam bersama keheningan.

#Meracau

26 Januari, 2013


ceracau cinta

Kita biasa menutur Cinta dengan bibir yang komat-kamit menembus jantung peradaban sebagai hamba Tuhan yang memang menyubjek dalam makro kosmos yang maha luas ini sebagai kebutuhan fundamental yang mentradisi dari kakek Adam dan nenek Hawa semenjak menghuni firdaus hingga turun ke bumi. Cinta bisa melahirkan egoisme ala Qabil ataupun keikhlasan ala Habil, Hitam dan putih. Dimanakah posisi kita? apakah mempersepsikan cinta seperti mata pisau yang tajam atau seperti sisi tumpul dari pisau itu?. Semuanya tergantung kesadaran diri dalam menafsirkan nilai-nilainya.

Bagiku, "Cinta" meluber jauh dari keringat Nietzsche ataupun Marx yang telah meninggalkan nilai-nilai langit dengan mentradisikan materialisme sebagai berhala. Cinta tampak mengerikan dalam persepsi dua anak manusia ini! Hedonisme dan Liberalisme

Ah, Sejatinya... Puncak dari segala Cinta adalah mencintai Allah Azza Wa Jalla!!!. *demikian

Side Story

10 Januari, 2013


Tzuraya

Cinta adalah ketika kuat kaurasakan kehadiran Tuhan dalam diri pasanganmu. 
- @Sudjiwotedjo Quotes -

Pada suatu senja dibulan Juni, pernah ada gemericik rintik hujan menerpa nuraniku, melambungkan imajinasiku kepuncak khayalan. Aku menembus dimensi ruang dan waktu, lalu melihat gambaran lain kehidupanku kelak. Ada Bidadari bermata bening yang selalu menungguiku setiap sore dan membuatkanku secangkir cappucino hangat. Dia adalah Tzuraya, begitulah aku sering memanggilnya. Seseorang yang ditakdirkan hadir dalam hidupku lewat sebuah pertemuan yang tak pernah disengaja setahun lalu disebuah bioskop.

Hidup adalah pilihan, seperti gerimis bulan juni yang memilih senja untuk mengekspresikan eksistensinya, juga seperti aku yang memilih rerintikan hujan untuk mengeksistensikan keberadaanku di senja itu dengan secangkir cappucino hangat buatan Tzuraya.

Pada hari itu, tepatnya dipertengahan bulan Juni. Seperti kebiasaan Tzuraya ketika menungguiku pulang di sore hari, secangkir cappucino sudah disiapkannya untukku. Sore itu cuaca sedikit mendung, pertanda akan hujan sebentar lagi. Kami berdua duduk di beranda rumah sambil menikmati potongan matahari senja yang tampak malu-malu bersembunyi dibalik awan hitam. Gerimis mulai turun perlahan-lahan, rerintikannya mulai menyabda bumi dengan lirih suara alam yang begitu syahdu. Suara rintik gerimis itu benar-benar menyatu dengan suara seruputan cappuccino buatan Tzuraya. Hmmm... Sungguh indah sore itu. Senja, gerimis, cappucino dan senyum Tzuraya seperti orkestra alami yang bersenandung dengan sendirinya, Syahdu!

Aku menyeruput cappucino buatan Tzuraya itu dengan tersenyum bahagia memandangi wajahnya yang teduh, wajah yang selalu saja membuatku ingin segera pulang ketika jingga senja mulai tampak di ufuk langit. Tzuraya membalas senyumku sambil menggenggam erat tangan kiriku, dia menatapku dengan matanya yang benar-benar bening, pandangan penuh rasa sayang dan cinta. Itulah tatapan penuh harapan dari seorang wanita yang paling kucintai setelah ibuku.

"Tunggu yah sayang, aku ingin menunjukan sesuatu untukmu".  Bisik Tzuraya ditelingaku

Tzuraya melepaskan genggamannya dari tanganku, lalu masuk kedalam rumah. Tak lama kemudian, dia muncul didepanku dengan membawa sebuah Biola kecil.

"Dari mana biola itu, sayang?" tanyaku sedikit penasaran.
"Aku membelinya di toko alat-alat musik di gang depan tadi siang, sayang!" jawabnya singkat.

Tanpa banyak bicara, Tzuraya maju dua langkah dari tempatku duduk, menundukan kepalanya dan membungkuk setengah ruku seperti meminta isyarat dariku untuk memainkan biola itu.

"Ini adalah konser tunggal, dan kamu adalah satu-satunya penonton yang akan menikmati gesekan biola dari salah satu Violinis berbakat yang tak pernah terpublikasihkan di Dunia", katanya setengah bercanda sambil cekikan.

Aku hanya tersenyum lebar memandangi tingkah lucu Tzuraya itu, dia dengan gaun putihnya yang memanjang ke lantai sambil menenteng sebuah biola, berdiri dihadapanku selayaknya seorang violinis profesional yang akan mendemonstrasikan keahliannya memetik dawai biola dihadapanku yang berlagak seperti seorang kritikus musik. Aku mengangguk, memberi isyarat kepadanya agar memulai konser tunggal itu. 

Konserpun dimulai. Wow, gerimis sore itu seakan-akan berhenti mendadak lima detik saat Tzuraya mulai menggesekan biolanya. Gesekan pertamanya benar-benar membuatku merinding, hatiku bergetar! Lalu, gesekan kedua, ketiga dan seterusnya, aku terhipnotis. Sungguh, aku seperti sedang menyaksikan Violinis wanita "Vanessa Mae" menghipnotis ribuan telinga di London Music Festival. Waktu seolah-olah berhenti ketika Lagunya Whitney Houston "I Will Always Love You" bersenandung dengan indah dari dawai Tzuraya. 

If I should stay 
Well, I would only be in your way 
And so I'll go, but yet I know 
That I'll think of you each step of my way 
And I will always love you 
I will always love you 
Bitter-sweet memories 

That's all I have, and all I'm taking with me 
Good-bye, oh, please don't cry 
Cause we both know that I'm not 
What you need 

I will always love you 
I will always love you 

And I hope life, will treat you kind 
And I hope that you have all 
That you ever dreamed of 
Oh, I do wish you joy 
And I wish you happiness 
But above all this 
I wish you love 
I love you, I will always love 

I, I will always, always love you 
I will always love you 
I will always love you 
I will always love you
---

Sungguh, Tzuraya telah berhasil membuatku terpana, melongo tak percaya dengan apa yang barusan aku lihat. Aku hanya bisa bergeming ditempatku duduk. Luar biasa, ini adalah konser tunggal tanpa penonton lain, sekeliling tampak tenang, diam, dan bisu, hanya ada rerintikan gerimis yang tak lagi terdengar suaranya, dan potongan matahari yang masih terlihat di ufuk sana dibalik senja yang tertutupi kabut, semuanya tampak bergeming sesaat untuk menikmati sore yang benar-benar syahdu itu. 

Lima menit Tzuraya menghipnotis senjaku dengan melodi indah dari lagunya Whitney Houston "I will always love you" itu.  Nada-nadanya merambat pelan menggetarkan hatiku sejadi-jadinya. Sungguh, aku menyukai gesekan biola Tzuraya dan cara dia mengiramakan tubuhnya mengikuti irama dari biola itu. Akhirnya, Hanya Aku, yah.. hanya akulah yang bertepuk tangan, hanya aku penikmat tunggal dari orkestra itu, Hanya aku!

***

Tzuraya menutup konser tunggal itu dengan menunduk lama didepanku sambil membentangkan kedua tangannya yang masih memegang biola. "Sayang, aku ingin mencintaimu berlawanan arah jarum jam, ketika banyak hati yang memilih mencintaimu searah jarum jam". Suara Tzuraya terdengar pelan memecah kesunyian senja dipertengahan bulan Juni yang mulai menggelap itu...!!!


(ROe BOelan JOeni)

my story #3

10 Desember, 2012

Humaira (3)

Tidak ada yang bisa menolak taqdir kecuali do’a, 
maka berpeganglah wahai hamba Allah pada do’a”. (HR Turmudzi dan Hakim)


Setelah Humaira pergi ke Bali, sejak itu pula aku kehilangan kabarnya. Hampir sebulan lamanya aku mencoba menghubungi Humaira lewat sms ataupun telepon, tapi semua usahaku sia-sia. Humaira benar-benar menghilang tanpa jejak seperti ditelan bumi. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya disana. Diapun tidak pernah mengabariku sama sekali. Aku benar-benar kehilangan kabarnya.

Beberapa kali diwaktu senggang, aku pernah mencoba mengecek keberadaan Humaira di kostnya, siapa tahu saja Humaira sudah kembali tanpa memberitahuku, tapi semua usahaku tak ada hasilnya sama sekali. Kata beberapa teman kostnya "sudah sebulan ini Humaira tak memberi kabar". Terakhir kali mereka melihatnya sewaktu dia pamit mau ke Bali sebulan yang lalu.

Ah, Jujur saja, mahkluk Tuhan satu ini benar-benar membuatku mati akal, aku gelisah sepanjang malam, dan sering bertanya-tanya sendiri dalam hati "Apa maksud kehadirannya dalam hidupku, setelah takdir aneh yang mempertemukan kami diatas kereta beberapa waktu lalu". hmmm, pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya sulit untuk kujawab saat ini. Sudahlah, barangkali saja itu bagian dari kemisteriusan takdir dan skenario langit yang begitu rumit untuk dimaknai.

***

Tiga bulan pun berlalu, dan Humaira masih saja tanpa kabar. Entahlah, dalam ketiadaan kabarnya -- aku merasa kehilangan dia. Seperti ada perasaan rindu yang berkecamuk dalam dada. Aku rindu! ya, aku merindukan Humaira. Rindu senyumnya, rindu cerita2nya, rindu tatapan sedunya, rindu suaranya. Aku rindu semua hal yang berhubungan dengannya.

Perlahan-lahan aku mulai mencintainya. Aku mulai mencintai humaira tanpa tahu alasan yang pasti dibalik rasa ini. Perasaan yang aneh tentunya. Entah kenapa rasa ini hadir justru setelah aku kehilangan kabar beritanya. Ahhh, benarlah adagium para bijak "Tuhan selalu menghadirkan cinta melalui cara-Nya yang rahasia". Dan pada titik ini, aku harus mengakui dengan jujur, Humaira telah membuatku tertunduk kalah dihadapan takdir.

Dibulan ketiga itu pula aku berkunjung lagi ke kost Humaira, dan ternyata dia belum juga kembali. Saat itu, Aku hanya menyelipkan sepucuk surat dibawah pintu kamar kostnya, berharap setelah dia kembali nanti, dia membaca suratku & kemudian menghubungiku. Hmmm, ini kali pertama semenjak mengenal Humaira, aku menulis surat untuknya. Disurat itu, Aku menulis semua hal tentang apa saja yang aku rasakan selama ketiadaan kabarnya, termasuk ungkapan perasaan yg kupendam untuknya. Aku tak peduli apa tanggapan Humaira nanti. Pikirku, Humairapun sudah mengungkapkan isi hatinya sebelum dia berangkat ke Bali. Walaupun ungkapan rasa yang dia bilang beberapa waktu lalu itu masih terkesan bias dimataku. Aku hanya percaya satu hal "Bila segala sesuatu dimulai dengan niat karena Allah, insyaAllah Allah mudahkan segalanya".

Semenjak kuselipkan surat itu dibawah pintu kamarnya, semenjak itu pula aku ikhlaskan semuanya kepada Yang Maha Kuasa apapun yang terjadi nanti. Aku memang sudah mengambil keputusan untuk tak lagi mencari tahu keberadaannya. Seandainya aku dan Humaira berjodoh, aku yakin, kami akan dipertemukan suatu hari kelak dengan cara yang rahasia dan tak terduga dari Pemilik kehidupan ini.

***

Aku menjalani hari-hari seperti biasa. Bekerja, bermain, dan beraktifitas lainnya. Saat itu, aku hanya mencoba menghapus semua memori tentang Humaira, walaupun sisa-sisa kenangan kami masih saja bermain-main di batok kepalaku. Bagiku, sosok Humaira seperti debu-debu tanah yang berterbangan setelah gerimis yang hanya merintik sesaat. Dia seperti debu-debu itu yang sepenuhnya tak hilang, dia masih ada dan berterbangan sesuka hatinya menari-nari di udara lalu menghilang entah kemana.

Empat bulan telah berlalu, lima bulan juga berlalu dan enam bulanpun telah berlalu. Tetap saja Humaira tak ada kabar berita. Akupun mulai berpikir, semua hal dengan Humairah telah berakhir. Dia Mungkin hanyalah sesosok takdir singkat yang barangkali saja dihadirkan Tuhan untuk mengajariku makna lain dari Cinta. 

Dibulan keenam itu pula aku mencoba memaknai ulang pertemuanku dengan Humaira. Bahwa "Ada sebagian Hati yang sengaja dihadirkan Tuhan sebagai pelajaran buat Hati yang lain". Bahwa cinta itu bukan sekedar pertemuan, perjuangan atau pengorbanan untuk mendapatkan hati seseorang. Cinta lebih dari itu, cinta itu niat. Niat yang tertanam dihati yang kemudian bermetamorfosis menjadi doa-doa disetiap sujud dipenghujung sholat untuk orang yang kita cintai. 

Aku teringat kata-kata yang pernah Humaira ucapkan untukku dulu. Ungkapan perasaan yang mengandung makna lain dari sekedar ungkapan cinta biasa. Aku percaya, kata-kata cintanya dulu bukan sekedar penawaran murahan untuk menjadi kekasihnya. Mungkin Humaira hanya menguji niatku untuk menjadi pendampingnya kelak! Yah, akupun jadi tahu "Cinta adalah niat yang ikhlas". Tanpa niat yang ikhlas, Cinta yang dibangun akan menjadi sia-sia.

Bagiku, memaknai ulang pertemuan dengan Humaira itu seperti menyusun ulang puzzle yang berantakan. Ada beberapa puzzle yang salah tempat yang harus ditempatkan diposisi yang tepat agar bentuk puzzle itu bisa sempurna. Seperti puzzle-puzzle yang berantakan itu, rupanya banyak hal dalam hidup yang ternyata tanpa sadar bisa terbeli dengan uang. Cinta tanpa niat bisa dibeli dengan harga berapapun yang kita mau. Kitapun tidak bisa membeli kenangan. Kita harus membuatnya sendiri, kita harus menyusun kenangan-kenangan itu sendiri seperti kita menyusun puzzle. Kenangan berhubungan dengan masa lalu, kenangan itu waktu. Dan waktu tak akan pernah bisa terbeli dengan materi apapun.

Waktu terus bergulir, Tidak terasa sudah hampir setahun aku tak mendengar lagi kabar tentangnya. Ketiadaan Humaira itu seperti membuka tirai-tirai makna yang selama ini terselubung, aku belajar banyak hal, termasuk merekonstruksi ulang niatku untuk mencintai seseorang. Terima kasih Humaira untuk pelajaran berharga ini.

***

Takdir itu memang misterius, masa depan tidak bisa kita tebak, jalan hiduppun tidak bisa kita skenariokan. Semuanya ada ditangan Yang Maha Kuasa. Kita hanya bisa berusaha hari ini, berusaha dengan doa. Karena doa dapat mengubah takdir, "Begitulah pesan Baginda Nabi" yang selalu terngiang-ngiang dibatok kepalaku.

Dan.... itulah yang terjadi kepadaku, kekuatan Doa membuka jalan, membuka rahasia takdir.

Seminggu yang lalu, setelah hampir setahun lamanya, setelah Humaira benar-benar hilang dari ingatanku. Setelah Aku tak lagi mengingatnya. Allah seperti membuka tirai-tirai takdir yang selama ini terhijab. Akhirnya aku dipertemukan dengan Humaira dengan cara yang tidak terduga, dalam satu skenario yang tidak kami rencanakan. Satu kejadian yang benar-benar mirip satu setengah tahun yang lalu, seperti dejavu barangkali. Kami dipertemukan di kereta yang sama dengan perjalanan yang sama, di gerbong yang sama, ditempat duduk yang sama ketika aku kembali ke jakarta dari liburan di Bandung. Humaira duduk tepat didepanku, dengan penampilan yang mirip setengah tahun yang lalu. Pipinya pun masih seperti yang dulu -- kemerah-merahan. Aku seperti tak percaya dengan Takdir kedua ini. Jantungku berdegup kencang melihat sosok Humaira ada dihadapanku -- sosok misterius yang hampir setahun membuatku mati akal.

"Hey, Bang!"

Dua kata pertama yang terucap dari bibir Humaira setelah kami saling berpandangan cukup lama didalam kereta Parahyangan tujuan Jakarta itu.

BERSAMBUNG..........

Baca juga: