-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Semua Tulisan yang kurang bagus ini hanyalah sebuah proses belajar untuk memahami realita diriku dan dunia luar. Selamat menyelam dalamnya lautan ideku dari sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang yang bisa saja objektif dan bisa pula subjektif. Kebenaran hanyalah Milik Allah Subhana Wa Ta'ala semata. Semoga tulisan-tulisan dalam blog ini Bermanfaat bagi kita semua. aamiin
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Renungan Untuk Negeriku

05 Februari, 2008

Indonesia, Surga Yang Hilang
oleh : Roe Salampessy


"Bukan lautan hanya kolam susu, Kail dan jala cukup menghidupmu, Tiada badai tiada topan kau temui, Ikan dan udang menghampiri dirimu
orang bilang tanah kita tanah surga, Tongkat kayu dan batu jadi tanaman, Orang bilang tanah kita tanah surga, Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. "

Siapapun pasti tahu dan pernah mendengar syair lagu diatas. Syair lagu yang dipopulerkan oleh salah satu Band Legendaris Indonesia "KOES PLOES" ini sengaja saya kutip agar menjadi bahan renungan kita semua sebagai anak Negeri yang hidup ditanah Ibu pertiwi -Indonesia-.

Katanya negeri kita ini adalah negeri Surga, negeri yang digambarkan oleh Koes Ploes dengan ungkapan kata-kata yang begitu menyentuh perasaan kita sebagai anak bangsa yang tengah hidup di tanah warisan nenek moyang kita yang bernama Indonesia. Dengan analogi yang cukup sederhana inilah kita dibawa ke romantisme masa lalu akan keindahan alam (estetika) dan kesuburan tanah serta kekayaan alam yang melimpah ruah dinegeri ini. Negeri yang pesonanya menebar harum keseluruh pelosok dunia, negeri yang menghijau dari daratan Aceh hingga pegunungan di Merauke, negeri yang keindahan lautnya menyebar dari selat malaka, ke laut jawa, hingga laut banda. Negeri yang kandungan alamnya menyembur dari ujung Kaltex (riau) ke kandungan minyak di blog cepu, hingga freeport (emas & tembaga) di kaki bukit Jayawijaya Papua. Negeri yang subur akan beragam tanaman (jagung, padi, kacang kedelai, cengkeh, pala, kopi, kelapa, dsb) tersebar dari unjung pulau we sampai perbatasan papua newguinea. Negeri yang mengundang decak kagum penghuni negeri lain diseantero belahan dunia. Inilah INDONESIA, negeri surga yang hanya terucap lewat sebaris syair lagu, yang katanya tanpa kail dan jalapun ikan-ikan akan menghampiri serta kayu dan batupun akan menjadi tanaman.

Konon, karena Keindahan dan kekayaan alam inilah, negeri kita menjadi pembius bangsa lain di seantero bumi, banyak yang tergiur dengan pesona alamnya yang melimpah ruah dari daratan hingga lautan, tak pelak menjadikan negeri kita sebagai pusat pengambilan rempah-rempah dan kekayaan alam lainnya untuk diperdagangkan dipasar dunia. Negeri kita sempat menjadi pengekspor berbagai komoditi keseluruh dunia lewat para pedagang Arab dan cina, namun akhirnya sejarahpun menorehkan sebuah catatan suram kepada negeri kita, karena kekayaan alamnya yang berlimpah ruah inilah, negeri kita menjadi ajang rebutan kaum kapitalis dunia yang dimotori bangsa portugis pada abad pertengahan. Surga itupun ditemukan bangsa Barat, Kolonialisme dan imperialisme tak dielakan, Bangsa Belandalah yang akhirnya menjadi pemenang untuk menguasai negeri ini selama kurun waktu 3,5 abad. Penjajahan yang cukup panjang itulah menjadikan negeri ini tak lagi tanah surga, Kekayaan alamnya dirampas dan dijarah, negeri ini diubah bak neraka.

Kini, setetlah 62 tahun negeri ini melepas diri dari kungkungan kaum imperialis. Ternyata Surga itu hanyalah sebuah romantisme sejarah yang hanya menjadi cerita dongeng sebelum tidur, karena Surga itu telah hilang, dia telah hilang ditelan zaman dan murka waktu. Negeri ini seakan tak sanggup bangkit dari bangkai sejarah yang kelam, malah menjadi kerbau congek yang ditusuk hidungnya mengikuti kemauan kaum imperialis. Alih-alih mengimpikan tanah surga, malah Negeri kita ini disetting bak neraka bagi penghuninya, Semua kekayaan alam kita dipreteli satu persatu dan kehidupan anak bangsanya dimarginalkan bertahun-tahun, bukan hanya oleh kaum imperialis tapi juga oleh penghianat-penghianat bangsa yang tega menjual aset-aset bangsanya sendiri.

Tampaknya, kita harus merenungi kembali Tanah Surga yang menjadi sentilan lagu diatas. Tanah impian semua anak bangsa yang ingin hidup sejahtera dan makmur, tanah yang diwariskan oleh nenek moyang kita untuk negeri ini. Bukan cuma kayu dan batu jadi tanaman namun apapun bisa menghidupi kita di negeri ini. Semoga...(ROE)

9 KOMENTAR:

olangbiaca mengatakan...

Ass.....hik...hik..hik..nanis mbacanya, cedih...abis atu mo buat apa ya ? wong macih ingucan..,ntal atu becal mo jadi pleciden..pleciden yg tak ngompol gitu lho...ehe.he....

Eucalyptus mengatakan...

Jadi istilah "surga" hanya kaya fatamorgana ya di negeri kita ini. Antara ada dan tiada, dibilang ada.... emang tanah kita kaya raya, dibilang tiada.... habis tuh hasilnya kok gak bisa dinikmati rakyat kecil?

sachroel mengatakan...

he..he..ironi nya banyak orang kelaparan di atas tanah yg subur ini.

tapi...kita belum terlambat....indonesia masih bisa bangkit suatu saat

harapandiri mengatakan...

Ehhhhhhhhh, semoga kedepannya semua akan baik-baik saya bukan begitu saudaraku Roe

madong mengatakan...

Jadi sedih membacanya,...


kapan bangsa ini betul-betul Menjadi SURGA....??!!!

Santi mengatakan...

surga itu masih ada. ndak ilang dan ndak musnah. mau bukti? coba anda jalan ke pelosok sumatra, atau di jawa, di pulau kecil batam, dan di pulau2 lainnya. banyak variasi ke-surga-an yang anda liat. disana banyak SDA dan SDM yang bisa jadi "surga" nya Indonesia.

yang harus jadi pertanyaan, siapa yang mau mengolahnya agar bisa menjadi surga. kayu itu ndak bisa jadi tanaman yang bermanfaat kalo ndak ada yg menancapkan ke tanah dan mengurus. pertanyaan ttg "siapa" disini sebaiknya ndak membicarakan pemerintah, karena kl membicarakan mereka, ndak ada hasilnya. ujung2nya malah mental kita para generasi muda jadi jatuh mental dan pesimis.

jadi, akhir kata, kapan anda (dan saya) bersedia mengolah bahan mentah surga itu agar menjadi surga? :)

ROE mengatakan...

@ santy...
Comentar yang bagus, inilah yang di inginkan dari generasi muda yang selalu bersikap kritis terhadap setiap permasaalahan yang ada.

Sistem pemerintahan di negeri ini telah tersistematis oleh segilintir elit, mereka menguasai segala lini kehidupan bangsa. Makanya surga itu hanyalah Romantisme sejarah, dalam artian bahwa sangat banyak kekayaan alam kita yang telah diolah maupun belum terolah, namun semua hasil pengolahannya itu tidaklah menyejahterajan masyarakat pada umumnya, karena masih ada sistem privatisasi perusahan2 pengolhan tersebut. akhirnya keuntungan lebih banyak kepada pihak asing ketimbang negara ini. nah hasil yang sedikit itu pula, ternyata masih dikorupsi kiri kanan oleh segelintir orang juga.

jadi ajakan untuk mengolah bahan mentah surga itu agar menjadi surga, saya pikir kita akan terbentur sistem, karena semua kekayaan alam dikuasai oleh negara. negaralah yang berhak memutuskan siapa yang akan mengolahnya. tentu masih ingat sengketa blog Cepu, yang menjadi rebutan antara exxon mobile dan pihak pertamina. akhirnya exxonlah yang menang. saya dengar2 pembagian hasilnya pun gak merata.

nah.. disini sebenarnya bukan mengolahnya yang jadi prioritas. tapi hasil dari pengolahannya itu. apakah bisa menyejahterakan rakyat atau tidak. Jadi untuk kembalikan surga itu... kita harus bisa merubah sistem yang ada di negeri ini. Coba lihat beberapa negara2 amerika selatan yang berani menasionalisasikan semua perushan2 pertambangan di negerinya. tingkat kesejahteraan rakyat-nya sedikit lebih baik ketimbang kita disini, padahal sama2 negara berkembang.

wassalam

Santi mengatakan...

@ bung Roe:
Tidak ada gading yang tak retak bung. Sekuat2nya mereka membuat sistem yg akhirnya membuat kita nyaris ndak bisa bergerak, tetap ada celahnya. Kita pun sebaiknya jangan fokus ke hal2 yang tidak sanggup kita atasi. Tidak ada ranting, akar pun jadi. Perhatikan yang "kecil" dan "sepele" tapi ternyata bisa bermanfaat besar.

Contoh: Mengingat kepariwisataan kita yang sangat indah, namun miskin promosi ke mancanegara. Dan juga fasilitas yang skr saya gunakan untuk akses blog nya bung Roe ini ternyata membuat saya memiliki "kekuatan" sehingga saya bisa mengatakan apa saja ke seluruh dunia. Dan mengingat tempat2 pariwisata yang tak terjamah itu pun kekurangan lahan kerja. Kenapa ndak buat website pariwisata, untuk backpackers khususnya (karena tempat2 tsb biasanya tidak terfasilitasi dgn hotel/resort). Promosikan Indonesia dgn keindahan alamnya. Tapi, juga lancarkan misi untuk mendidik rakyat di kota tujuan agar tidak pula dibodohi. Ajarkan anak2 muda disana untuk ikut melihat potensi mereka. Tularkan ilmu.

Contoh lagi: Potensi furniture dan handicrafts. Seni budaya yang sebetulnya aset yang tdk ternilai. Anda sudah tau pastinya ttg kemiskinan HKI di Indonesia. Akibatnya bukan hanya tindakan yg dilancarkan oleh negara tetangga kemarin. Itu sih hanya akibat yang terlihat gara2 faktor politik. Tapi coba lihat.. anak2 muda kita sekarang. Banggakah mereka dengan karya seni kita? Coba lihat nasib songket.. hanya dikenal dan dibanggakan oleh ibu2. Itupun hanya dibeli, disimpan atau dipajang. Tidak ada cerita turun temurun kenapa hal tsb dibanggakan. Apa celah yang bisa dimanfaatkan Bisakah songket go international? Dijual ke LN dengan harga Euro atau Dollar dan bisa menyatukan pengrajin agar tetap semangat berkarya karena order yang tak putus dari LN?

Saya miris, sedih, kecewa, begitu melihat website2 itu dikuasai oleh bule2 yang ndak cinta Indonesia tapi mereka bisa melihat celah untuk mengeruk kekayaan kita. Saya pun bisa menebak penghasilan yang mereka terima hanya dimakan untuk mereka saja. Mana mereka peduli dengan para pengrajin atau rakyat..

Bangunlah networking seluas-luasnya, terutama kpd generasi penerus bangsa. Ajak mereka spy juga cinta Indonesia dgn bukan hanya menyanyikan lagu kebangsaan disaat upacara. Angkat mental mereka agar tidak berhenti berusaha dan tidak putus berdoa. Tularkan optimisme bahwa bangsa ini bisa bangkit. Tapi tidak mungkin bangkit kalau semua hanya mengandalkan pemerintahan yg masih berantakan. Melihat fakta bahwa pemuda2 terpintar kita yang sudah diambil oleh bangsa lain. Yang hanya menjadikan Indonesia sbg tempat untuk pulang kampung. Kita ini sudah diperangi dengan senjata yg tdk terlihat. Mental2 kita emang sengaja dibuat down terus2an. Memang sengaja untuk menjauhkan generasi muda dari perasaan cinta kepada bangsa. Ini yang harus kita ubah. Jangan bilang ini mustahil, karena tidak. Penularan itu berjalan pelan, tapi pasti. Seperti ideologi baru yang mereka tularkan ke kita, pun kita perangi itu dengan cara yang sama. Mari saling menghasut untuk membangun bangsa. Karena membangun bangsa tidak mungkin bisa dilakukan oleh sekelompok orang, apalagi sendirian. Ingat bagaimana sejarah menceritakan hingga kita bisa merdeka? Seluruh rakyat dari sabang sampai merauke ini angkat senjata. Seluruh pemuda bergerak, bergerilya. Pemuda kita yang berada di luar negeri pun juga memiliki misi khusus dlm memerdekakan bangsa.

Sekarang, alhamdulillah kita sudah mengenal teknologi. Sudah ada yang namanya internet, email, messenger, blog, dll. Mari kita jadikan itu senjata, karena kita ini lagi berperang. Saya pun tadinya takjub begitu mengetahui kekuatan blog (dulu cuma tau website).

Wassalam

ARai mengatakan...

wah komennya panjang2 ya..
Indonesia rusak korban manusia2(Indonesia) yg serakah..